Digital clock

Kamis, 14 Maret 2013

KEDUDUKAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM DALAM FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN


KEDUDUKAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM DALAM FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : Drs. Mahfud Junaedi, M. Ag




Disusun Oleh:
Muhammad Khoirul Anam
(103111068)



FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
KEDUDUKAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM DALAM FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

       I.            PENDAHULUAN
Islam memandang bahwa pada dasarnya pendidikan adalah suatu proses transformasi ilmu pengetahuan menuju ke arah perbaikan dan penyempurnaan semua potensi manusia. Pendidikan tidak mengenal dimensi ruang dan waktu, maka dari itu menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban bagi umat muslim, pendidikan itu berlangsung sepanjang hidup manusia yaitu dari lahir sampai meninggal.
Pemikiran dan kajian tentang pendidikan dilakukan oleh para ahli dalam berbagai sudut tinjauan dan disiplin ilmu, seperti agama, filsafat, sosiologi dan sejarah. Sudut tinjauan ini menyebabkan lahirnya cabang ilmu pengetahuan kependidikan yang berpangkal dari sudut tinjauannya, yaitu pendidikan agama, filsafat pendidikan dan sejarah pendidikan.
Dalam dunia filsafat, filsafat pendidikan merupakan suatu bentuk filsafat khusus, yaitu bagian dari filsafat Islam yang mengkhususkan obyek dan sasaran pembahasannya dalam bidang pendidikan. Dapat pula dikatakan bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan penggunaan dan penerapan filsafat Islam dalam dunia kependidikan. Dengan demikian filsafat pendidikan Islam sebagai suatu sistem, selalu berkaitan dan sejalan dengan sistem induknya yaitu filsafat Islam.
Untuk itu pada makalah ini akan sedikit kami paparkan mengenai pengertian dan ruang lingkup ilmu pendidikan Islam, kajian-kajian filsafat ilmu pendidikan Islam maupun filsafat ilmu pengetahuan serta cara pengembangan ilmu pendidikan Islam.

    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian Ilmu Pendidikan Islam Itu ?
B.     Apa Ruang Lingkup Ilmu Pendidikan Islam  Itu ?
C.     Bagaimana Kajian Filsafat Ilmu Pengetahuan dan  Filsafat Ilmu Pendidikan Islam ?
D.    Bagaimana Cara Mengembangkan  Ilmu Pendidikan  Islam Dilihat Dari Sudut Pandang Filsafat Ilmu Pengetahuan ?

 III.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian Ilmu Pendidikan  Islam
Pendidikan Islam (tarbiyah al-Islamiyah) oleh para ahli sering diartikan sebagai proses pemeliharaan, pengembangan dan pembinaan.[1] Secara terminologis pendidikan merupakan proses perbaikan, penguatan dan penyempurnaan terhadap semua kemampuan dan potensi manusia. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu ikhtiar manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dan kebudayaan yang ada dalam masyarakat.[2] Muhammad Hamid an-Nashir dan Kulah Abd al-Qadir Darwis mendifinisikan pendidikan Islam sebagai proses pengarahan perkembangan manusia (ri’ayah) pada sisi jasmani, akal, bahasa, tingkah laku, dan kehidupan sosial dan keagamaan yang diarahkan pada kebaikan menuju kesempurnaan. Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa pendidikan adalah usaha atau proses perubahan dan perkembangan manusia menuju ke arah yang lebih baik dan sempurna.[3]
Ilmu ialah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode yang bersifat ilmiah. Ada lagi yang mengemukakan ilmu adalah suatu uraian yang tersusun secara lengkap tentang suatu keberadaan, tentang segi-segi dari keberadaan tertentu. Segi-segi saling terkait, mempunyai hubungan sebab akibat, tersusun logis dan diperoleh melalui cara atau metode tertentu. Jadi ilmu pendidikan Islam ialah ilmu yang mempelajari cara-cara dan usaha untuk menuju berhasilnya pembentukan kepribadian muslim yang sempurna.
Sedang mengenai pengertian pendidikan Islam, para ahli didik Islam sering berbeda pendapat. Berikut ini adalah pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tersebut.
1.      Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani  berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
2.      Menurut Syekh Muhammad an-Naquib al-Attas, pendidikan Islam ialah usaha yang dilakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat tuhan yang tepat dan dalam tatanan wujud.
3.      Menurut Musthafa al-Ghulayaini, bahwa pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya, kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatn tanah air.
4.      Hasil Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7-11 Mei 1960 di Cipayung Bogor, menyatakan: “pendidikan Islam ialah bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
Dari pengertian ilmu dan pengertian pendidikan Islam, dapatlah dibuat suatu definisi bahwa ilmu pendidikan Islam ialah ilmu yang membicarakan persoalan-persoalan pokok pendidikan Islam dan kegiatan mendidik anak untuk ditujukan ke arah terbentuknya kepribadian muslim.[4]

B.     Ruang Lingkup  Ilmu Pendidikan Islam
Ilmu pendidikan Islam mempunyai ruang lingkup sangat luas, karena di dalamnya penuhnya dengan segi-segi atau pihak-pihak yang ikut terlibat baik langsung ataupun tidak langsung.
Objek ilmu pendidikan Islam ialah situasi pendidikan yang terdapat pada dunia pengalaman. Diantara objek atau segi ilmu pendidikan Islam dalam situasi pendidikan Islam ialah:
1.      Perbuatan mendidik itu sendiri, yaitu seluruh kegiatan, tindakan atau perbuatan dan sikap yang dilakukan oleh pendidik sewaktu menghadapi atau mengasuh anak didik.
2.      Anak didik, yaitu pihak yang merupakan objek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan  perbuatan atau tindakan mendidik itu diadakan atau dilakukan hayalah untuk membawa anak didik ke arah tujuan pendidikan islam yang kita cita-citakan.
3.      Dasar dan tujuan pendidikan Islam yaiu landasan yang menjadi fundamental serta sumber dari segala kegiatan pendidikan Islam itu dilakukan.
4.      Pendidik yaitu Subjek yang melaksanakan pendidikan Islam dan pendidik ini mempunyai peranan penting terhadap berlangsungnya pendidikan.
5.      Materi pendidikan Islam yaitu bahan-bahan atau pengalaman-pengalaman belajar ilmu agama Islam yang disusun sedemikian rupa untuk di sampaikan kepada anak didik.
6.      Metode pendidikan Islam yaitu cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik.
7.      Evaluasi pendidikan yaitu memuat cara-cara bagaimana mengadakan penilaian terhadap hasil belajar anak didik.
8.      Alat-alat pendidikan Islam yaitu alat-alat yang dapat digunakan selama melakukan pendidikan Islam, agar tujuan pendidikan Islam tersebut lebih berhasil.
9.      Lingkungan sekitar yaitu kedaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksanan serta pendidikan Islam.
Ilmu pendidikan Islam mempunyai fungsi yang bermacam-macam, antara lain sebagai berikut:
1.      Menumbuhkan dan memelihara keimanan.
2.      Membina dan menumbuhkan akhlak mulia.
3.      Membina dan meluruskan ibadah.
4.      Menggairahkan beramal dan melaksanakan ibadah.
5.      Mempertebal rasa dan sikap beragama serta mempertinggi solidaritas sosial.[5]



C.    Kajian  Filsafat Ilmu Pendidikan Islam dan Filsafat Ilmu Pengetahuan
1.      Kajian Filsafat Ilmu Pengetahuan
a.       Pengertian Filsafat Ilmu Pengetahuan
Filsafat dalam bahasa Inggris, yaitu philosophy, istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani: philosophia yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) atau philia (persahabatan) dan sophos (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, ketrampilan, pengalaman praktis dan intelegensi). Jadi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran (love is wisdom) atau induk dari segala ilmu pengetahuan. Orangnya disebut filosof yang dalam bahasa Arab disebut failasuf. [6]
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘alima yang berarti mengerti, memahami benar-benar. Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan kumulatif. Sedangkan pengetahuan berarti proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Jadi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang benar disusun dengan sistem dan metode untuk mencapai suatu tujuan yang berlaku universal dan dapat diuji kebenarannya.
Setelah dipahami pengertian filsafat, ilmu, dan pengetahuan maka dapat disimpulkan  bahwa filsafat ilmu pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempelajari teori pembagian ilmu, metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang berkaitan dengan kebenaran ilmu tertentu.[7]

b.      Tujuan Filsafat Ilmu Pengetahuan
Tujuan dari filsafat ilmu pengetahuan itu sendiri yaitu:
1)         Mendalami unsur-unsur pokok  ilmu sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
2)         Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu diberbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
3)         Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam memahami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah.
4)         Mendorong pada calon ilmuan untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan mengembangkannya.
5)         Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan.[8]

c.       Cara Kerja Filsafat Ilmu Pengetahuan
Sebagai ilmu yang tidak terbatas, filsafat tidak hanya menyelidiki suatu bidang tertentu dan realitas tertentu saja. Filsafat senantiasa mengajukan pertanyaan tentang seluruh kenyataan yang ada. Filsafat pun selalu mempersoalkan hakikat, prinsip, dan asas mengenai seluruh realitas yang ada, bahkan apa saja yang dapat dipertanyakan termasuk filsafat itu sendiri.
Ketakterbatasan filsafat itulah yang amat berguna bagi ilmu pengetahuan. Ketakterbatasan filsafat ini tidak hanya selalu berguna sebagai penghubung antar disiplin ilmu pemgetahuan. Akan tetapi filsafat sanggup memeriksa, mengevaluasi, mengoreksi dan lebih menyempurnakan prinsip-prinsip dan asas-asas yang melandasi berbagai ilmu pengetahuan itu.[9]
Filsafat ilmu pengetahuan mempunyai wilayah lebih luas dan perhatian lebih transenden dari pada ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Maka dari itu filsafat ilmu pengetahuan pun mempunyai wilayah lebih luas dari pada penyelidikan tentang cara kerja ilmu-ilmu. Dengan demikian setelah kita meninjau dan merumuskan cara kerja dan tugas filsafat, kita bisa merumuskan cara kerja filsafat ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu pengetahuan bertugas meneliti dn menggali sebab-musabab pertama dari gejala ilmu pengetahuan. Diantaranya paham kepastian, kebenaran, dan objektivitas. Cara kerjanya sesuai dengan cara kerja filsafat tersebut di atas yaitu bertitik pangkal pada gejala ilmu-ilmu pengetahuan, mengadakan reduksi ke arah intuisi yang ada dalam ilmu-ilmu pengetahuan (dan para ilmuan), sehingga kegiatan ilmu-ilmu dalam pelaksanaannya dapat dimengerti sesuai dengan kekhasannya masing-masing. Cara kerja itu bisa dirumuskan sebai berikut:
Cara kerja filsafat ilmu pengetahuan yang melebihi sekedar uraian tentang pelaksanaan teknis ilmu-ilmu bersangkutan ialah penelitian tentang apa yang memungkinkan ilmu-ilmu itu terjadi dan berkembang. Cara kerja ini bertitik pangkal pada uraian ilmu-ilmu pengetahuan, sehingga melalui jalan reduksi dapat mencapai pokok-pokok inti yang memungkinkannya. Kemudian berkat reduksi itu cara kerja dan pembentukan ilmu-ilmu dalam pelaksanaan sehari-sehari dapat diterangkan dan dimengeti.[10]

2.      Kajian Filsafat Ilmu Pendidikan Islam
Perkembangan filsafat (pemikiran falsafati) dalam dunia islam telah menghasilkan berbagai macam alternatif jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan hakiki problema hidup dan kehidupan manusia tersebut. Ilmu kalam, ilmu tasawuf , ilmu fiqh adalah merupakan kodifikasi dari jawaban berbagai macam pertanyaan tersebut, sehingga menghasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu tersebut berhasil dikembangkan dalam dunia Islam, dengan menggunakan metode khas filsafat Islam yaitu metode ijtihad. Ijtihad adalah mengunakan segenap daya akal dan potensi manusiawi lainnya untuk mencari kebenaran dan mengambil kebijaksanaan dengan bimbingan al-Qur’an dan al-Hadits
Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam Islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dn perkembangan umat Islam. Disamping itu filsafat pendidikan Islam juga merupakan studi tentang penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat Islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat Islam, dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam.[11]
Filsafat Islam dalam memecahkan problema pendidikan Islam dapat menggunakan metode-metode sebagai berikut:
a.       Metode spekulatif dan kontemplatif, merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat atau tafakkur. Kontemplatif  maupun tafakkur adalah berfikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat suatu yang difikirkan.
b.      Pendekatan normatif  yaitu  nilai, aturan atau hukum yang akan menunjukkan arah gerak suatu aktifitas.
c.       Analisa konsep, tangkapan atau pengertian seoarang terhadap sesuatu obyek.
d.      Pendekatn historis, yaitu mengambil pelajaran dari peristiwa atau kejadian masa lalu.
e.       Pendekatan ilmiah, pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam Islam.
Filsafat pendidikan Islam sebagai bagian atau komponen dari suatu system, ia memegang dan mempunyai peranan tertentu pada system dimana ia merupakan bagiannya. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka ia berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. Filsafat pendidikan Islam, sebagai bagian dari filsafat Islam dan sekaligus juga sebagai bagian dari ilmu pendidikan. Dengan demikian filsafat pendidikan Islam berperan dalam mengembangkan filsafat Islam, dan memperkaya filsaafat Islam dengan konsep-konsep dan pandanga-pandangan filosofis dalam bidang kependidikan. Dan ilmu pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis Islami.[12]

D.    Cara Mengembangkan Ilmu Agama Islam Dilihat Dari Sudut Pandang Filsafat Ilmu Pengetahuan.
Dasar filosfis adalah dasar yang memberi kemampuan memilih yang terbaik, memberi arah suatu sistem, mengontrol dan memberi arah pada semua dasar-dasar operasional lainnya. Bagi masyarakat sekuler, dasar ini menjadi acuan terpenting dalam pendidikan, sebab filsafat bagi mereka merupakan induk dari segala dasar pendidikan. Sementara bagi masysarakat religiuus seperti masyarakat muslim, dasar ini sekedar menjadi bagian dari cara berpikir di bidang pendidikan secara sistematik, radikal, dan universal yang asas-asasnya diturunkan dari nilai ilahiyah.[13]
Untuk mengembangkan filsafat, ilmu dan teori pendidikan Islam diperlukan kejelasan kerangka mengenai kerangka ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya terlebih dahulu. Suriasumantri (1986) menyatakan bahwa ontology adalah asas menetapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan (objek formal pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek formal tersebut. Epistimologi adalah asas mengenai bagaimana cara materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan, dalam hal ini adalah pendidikan Islam. Sedangkan aksiologi adalah asas dalam mengunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan. Berikut ini merupakan panjelasan mengenai ketiga unsur tersebut:
1.      Ontologi pendidikan Islam
Ontologi pendidikan Islam meliputi hakikat objek ilmu itu serta hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Objek formal ilmu pendidikan Islam adalah upaya normatif (sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam fenomena Qauiliyah dan fenomena Kauniyah) yang membantu proses perkembangan peserta didik dan satuan sosial ke tingkat yang lebih baik. Proses pengmbangan itu menyangkut dimensi-dimensi pengetahuan (teoritis, praktis dn fungsional), kreativitas, berbagai potensi dan fitrah, akhlak dan kepribadian, sumber daya yang produktif, peradapan yang berkualitas, serta nilai-niali ilahi dan nilai-nilai insani.
Objek kajian atau penelitian ilmu pendidikan Islam memiliki karakteristik sendiri, yang berasumsi bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah Allah, yang disampaikan melalui pengalaman batin nabi Muhammad Saw. Selanjutnya dapat digali dan dikaji konsep-konsep pendidikan yang bersifat universal, sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran filosofis dan asas-asas pendidikan Islam, yang kemudian di break down ke dalam kegiatan-kegiatan eksperimen atau penelitian ilmiah, yang pada waktunya akan melahirkan teori-teori atau atau ilmu pendidikan Islam, dan diuraiakan secara operasioal untuk dikembangkan menjadi metode pendidikan Islam.

2.      Epistimologi pendidikan Islam
Cara memperoleh materi pngetahuan sangat bergantung pada karakteristik materinya itu sendiri apakah ia berada dalam pengalaman manusia yang empiris, rasional, atau hermeneutis. Jika karakteristik materinya adalah empiris maka metode yang digunakan adalah observasi, eksperimen, dan induktif inferensial. Jika karakteristik materinya rasional atau aksiomatik metode analisis yang digunakan adalah metode deduktif. Jika karakteristik materinya adalah hermeneutis maka metode yang digunakan adalah  verstehen, yakni untuk menangkap makna yang lebih dalam, sehingga diperoleh metode reflektif yaitu metode analisis yang prosesnya mondar-mandir antara yang empirik dengan yang abstra.
Cara pembangunan ilmu pendidikan Islam bisa menggunakan metode penelitian ilmiah (saintifik), metode penelitian filosofis (kefilsafatan), dan metode penelitian mistik (sufistik). Hal ini tergantung pada apa yang akan diteliti. Agaknya ilmu pendidikan Islam tidak hanya birisi ilmu sains pndidikan Islam, tetapi pada bagian-bagian tertentu memerlukan teori filosofis sehingga pengembangannya menggunakan metode penelitian filosofis.
Sedangkan cara membangun ilmu pendidikan Islam dapat dilakukan dengan cara, pertama, cara deduksi yakni dimulai dari teks wahyu atau sabda rasul, kemudian ditafsirkan, dari sinilah muncul teori pendidikan pada tingkat filsafat, teori itu dieksperimenkan barulah muncul teori pendidikan pada tingkat ilmu. Selanjutnya diuraikan secara lebih operasional, sehingga langsung dapat dijadikan petunjuk teknis. Kedua, cara induksi konsultasi yaitu dengan cara seseorang mengambil teori yang sudah ada , kemudian dikonsultasikanke Al-Qur’an dan Hadits, jika tidak berlawanan maka teori itu didaftarkan ke dalam khasanah ilmu pendidikan Islam.

3.      Aksiologi pendidikan Islam.
Pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam diperlukan etika profetik, yakni etika yang dikembangkan atas dasar nilai-nilai ilahiyah (qauliyah) bagi pengembangan dan penerapan ilmu. Ada beberapa butir nilai hasil dari deduksi dari al-Qur’an yang dapat dikembangkan untuk etika profetik pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam, yaitu:
a.       Nilai ibadah, yaitu bagi pemangku ilmu pendidikan Islam, penerapan dan pengembangannya merupakan ibadah.
b.      Nilai ihsan, yakni ilmu pendidikan Islam hendaknya dikembangkan untuk berbuat baik kepada semua pihak pada setiap generasi, disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepada manusia dengan aneka nikmat-Nya dan dilarang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun.
c.       Nilai masa depan, ilmu pendidikan Islam hendaknya ditujukan untuk mengantisipasi masa depan yang lebih baik.
d.      Nilai kerahmatan, yakni ilmu pendidikan Islam hendaknya ditujukan bagi kemaslahatan seluruh umat manusia di alam semesta.
e.       Nilai amanah, yakni ilmu pendidikan Islam itu amanat dari Allah bagi pemangkunya, sehingga pengembangan dan penerapannya dilakukannya dengan niat, cara dan tujuan sebagaimana dikehendakinya.
f.       Nilai dakwah, yakni pengembangan dan penerapan ilmu pendidikan Islam merupakan wujud dialog dakwah menyampaikan kebenaran Islam.
g.      Nilai tabsyir, yaitu pemangku ilmu pendidikan Islam senantiasa memberikan harapan baik kepada umat manusia tentang masa depan mereka termasuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.[14]

 IV.            KESIMPULAN
Ilmu pendidikan Islam ialah ilmu yang membicarakan persoalan-persoalan pokok pendidikan Islam dan kegiatan mendidik anak untuk ditujukan ke arah terbentuknya kepribadian muslim.
Ruang lingkup dari ilmu pendidikan Islam itu sendiri antara lain: perbuatan mendidik itu ssendiri, anak didik, dasar dan tujuan pendidikan Islam, pendidik, materi pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, evaluasi pendidikan, alat-alat pendidikan Islam dan lingkungan sekitar pendidikan Islam itu sendiri.
filsafat ilmu pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempelajari teori pembagian ilmu, metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang berkaitan dengan kebenaran ilmu tertentu. Cara kerja filsafat ilmu pengetahuan ini bertitik pangkal pada uraian ilmu-ilmu pengetahuan, sehingga melalui jalan reduksi dapat mencapai pokok-pokok inti yang memungkinkannya. Kemudian berkat reduksi itu cara kerja dan pembentukan ilmu-ilmu dalam pelaksanaan sehari-sehari dapat diterangkan dan dimengeti. Sedangkan filsafat pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam Islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan umat Islam. Disamping itu filsafat pendidikan Islam juga merupakan studi tentang penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat Islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat Islam, dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam.
Dalam mengembangkan filsafat ilmu dan teori pendidikan Islam diperlukan kejelasan kerangka mengenai kerangka ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya terlebih dahulu. Suriasumantri (1986) menyatakan bahwa ontologi adalah asas menetapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan (objek formal pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realitas dari objek formal tersebut. Epistimologi adalah asas mengenai bagaimana cara materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi suatu tubuh pengetahuan, dalam hal ini adalah pendidikan Islam. Sedangkan aksiologi adalah asas dalam mengunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disusun dalam tubuh pengetahuan.

    V.            PENUTUP
Demikianlah makalah ini dibuat,  kami menyadari dalam penulisan makalah ini banyak sekali kesalahan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Besar harapan kami, semoga makalah ini dapat memberikan sedikit manfaat bagi para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi para pemakalah.




















DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. Fisafat Ilmu. Jakarta: RajaGrapindo Persada. 2010.

Djuwaeli, M. Irsyad. Pembaruan Kembali Pendidikan Islam. Ciputat: Karsa Utama Mandiri. 1998.

J, C. Verhaak S. dan R. Haryono Imam. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Gramedia. 1995.

Maksum, Ali. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2011.

Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam. Jakarta: RajaGrapindo Persada. 2006.

Mujib,  Abdul dan Jusuf Mudzakkir. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana. 2006.
Roqib, Moh. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: PT. Lkis Printing Cemerlang. 2009.
Sudiyono, M. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta. 2009.

Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: bumi aksara. 2008.



 


[1] M. Irsyad Djuwaeli, Pembaruan Kembali Pendidikan Islam, (Ciputat: Karsa Utama Mandiri, 1998), Cet. I, hlm. 3
[2] Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: PT. Lkis Printing Cemerlang, 2009), Cet. I, hlm. 15
[3] Ibid, hlm. 17-18
[4] M. Sudiyono, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 7-9
[5] Ibid, hlm. 10-14
[6] Amsal Bakhtiar, Fisafat Ilmu, (Jakarta: RajaGrapindo Persada, 2010), hlm. 4
[7] Ibid, hlm. 12
[8] Ibid, hlm. 20
[9] Ali Maksum, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), Cet. IV, hlm. 33
[10] C. Verhaak S.J dan R. Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: PT. Gramedia, 1995), Cet. V, hlm. 107-108
[11] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: bumi aksara, 2008), cet. IV, hlm. 126-128
[12] Ibid, hlm. 131-135
[13] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm. 46
[14] Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrapindo Persada, 2006), hlm. 15-17

1 komentar: